Matahari baru saja tenggelam. menyisakan rona merah di barat seakan mengajak untuk bernyanyi lagu senja. Sementara aku masih duduk di bibir pantai yang masih belum rela akan kepergian matahari. Seribu petanyaan masih berputar-putar di otak kepala ku yang di bungkus oleh tulang tengkorak yang terlalu kecil untuk menampung semua pertanyaan, Mencoba mengajarkan satu pelajaran berharga yang akupun belum tahu apa aku mampu untuk menerimanya, untuk kemudian ku cerna. dan ku jalani.

Camar-camar kecil masih terbang di atas laut yang merah oleh bias senja, membuka kembali ingatan-ingatan kecil pada seseorang yang mendambakan andai dirinya adalah seekor camar, bebas terbang kemana yang ia inginkan. Masih kuingat raut wajah nya yang bersemangat saat berbicara tentang semua mimpi-mimpi yang terus menghiasi tidurnya dan tak pernah menunggu waktu menghampirinya karena dia berlari mengejar waktu untuk mewujudkan semua mimpinya.

Tapi itu 5 tahun yang lalu, saat kesehatan masih memeluknya erat. saat tangan-tangan mungil masih mampu mengepal tinju ke udara, dan kakinya yang kuat masih bisa ia gunakan untuk berlari pergi kemana yang ia suka.

Kasur tua itu jadi tempat yang akrab baginya saat ini, menghabiskan waktu-waktu yang seakan kian menjauh dan malaikat kematian yang sudah siap menanti di depan pintu rumahnya. pernah ia menangis,

kenapa harus aku???

tapi seiring dengan waktu, penderitaan ini ia anggap sebagai pelajaran, ia adalah siswa yang harus belajar pada penderitaan, merenungi arti kata sehat yang sesungguh nya dan mensyukuri saat sakit dan terbaring. sahabat aku nggak akan bisa melupakan setiap saat